...welcome to my blog...
a place where we can toast & drink
a place where we can share & comment
a place where there no bullshit & everybody can come

Senin, 14 Februari 2011

Pengaruh Kebudayaan Asing dalam Masyarakat Awal Indonesia


Pengaruh Kebudayaan Asing dalam Masyarakat Awal Indonesia
Kepulauan Indonesia merupakan sebuah wilayah yang terbuka terhadap berbagai kebudayaan luar. Hal ini dikarenakan wilayah perairan Indonesia menjadi jalur perdagangan masyarakat kuno dan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia pun sering menjadi tempat singgah bagi pedagang-pedagang dari negara lain. Sehingga para pedagang dari negara lain pun turut membawa kebudayaan mereka saat berdagang di Indonesia.
Kebudayaan asing merupakan salah satu komponen utama yang membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat di kepulauan Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan melalui berbagai peninggalan arkeologis yang telah ditemukan oleh para arkeolog.
1.      Kebudayaan Bacson-Hoabinh
Penyelidikan terhadap penyebaran kapak Sumatera dan kapak pendek membawa kita ke daerah Tonkin di Indocina. Di sini terdapat pusat kebudayaan prasejarah, tepatnya di pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh yang letaknya berdekatan.
Alat yang ditemukan menunjukkan adanya kebudayaan mesolitikum berupa kapak yang dikerjakan secara kasar. Tetapi ada pula kapak yang telah diasah ketajamannya (proto-neolitikum), salah satu contohnya yaitu pebbles (kapak Sumatra dan kapak pendek).
Madeline Colani, seorang arkeolog berkebangsaan Prancis, menyebut alat-alat tersebut sebagai kebudayaan Bacson-Hoabinh. Dari hasil penyelidikannya diketahui bahwa Tonkin merupakan pusat kebudayaan Asia Tenggara. Kemudian kebudayaan tersebut menyebar akibat gelombang migrasi ke Asia Tenggara. Dan melalui Thailand dan Semenanjung Malaya, kebudayaan tersebut sampai ke Indonesia.
Hal lain yang ditemukan yaitu tulang belulang manusia. Dari penemuan tersebut ditarik kesimpulan bahwa pada saat itu daerah Tonkin ditinggali oleh dua bangsa, yaitu Papua Melanosoid dan Europaeide. Tapi ada pula bangsa Mongoloid dan Australoid. Di daerah Tonkin terjadi pencampuran kebudayaan dan bangsa. Pencampuran bangsa terjadi antara bangsa Melanosoid dan Europaeide yang kemudian menjadi bangsa Astronesia.
Bangsa Papua Melanosoid merupakan bangsa yang mempunyai daerah penyebaran paling luas di daerah selatan. Daerah penyebarannya meliputi Hindia Belakang, Indonesia, dan pulau-pulau di Samudra Pasifik. Bangsa ini berkebudayaan mesolitikum yang belum diasah (pebbles). Sedangkan untuk kecakapan mengasah (proto-neolitikum) merupakan pengaruh dari bangsa Mongoloid.
2.      Kebudayaan Dongson
Pada umumnya kebudayaan perunggu di Asia Tenggara disebut sebagai kebudayaan Dongson. Nama ini diambil dari nama tempat di Tonkin. Daerah Dongson merupakan pusat kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Di daerah Dongson ditemukan berbagai peralatan dari perunggu dan besi, kuburan-kuburan, dan berbagai bejana yang mirip dengan bejana di Kerinci dan Madura.
Victor Goloubew, seorang ilwuwan asal Prancis, berpendapat bahwa kebudayaan Dongson berasal dari masa sekitar satu abad SM. Pendapatnya didasarkan pada penemuan mata uang Dinasti Han (sekitar 100 SM) di kuburan Dongson. Selain itu juga ditemukan nekara-nekara kecil tiruan dari perunggu yang dijadikan bekal kubur. Karena nekara tiruan itu merupakan bekal kubur maka umur nekara tiruan itu sama dengan umur mata uang Dinasti Han. Maka, nekara yang asli dibuat sebelum tahun 100 SM.
Tetapi, pendapat tersebut ditentang oleh von Heine Geldern. Ia berpendapat bahwa kebudayaan tersebut berusia sekitar 300 SM. Pendapat tersebut didasarkan pada penelitiannya atas hiasan nekara Dongson. Hiasan nekara Dongson tidak ada persamaannya dengan hiasan dari masa Dinasti Han.
Dari hiasan pada nekara yang ditemukan di Tonkin, terlihat adanya hubungan antara Indonesia dengan daratan Asia. Dan diperkirakan gelombang kebudayaan logam datang ke Indonesia dari Tonkin melalui jalur barat melewati Semenanjung Malaya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pembawa kebudayaan logam adalah bangsa Austronesia melalui dua tahapan. Tahap pertama pada zaman Neolitikum semenjak 2000 SM dan tahap kedua pada zaman Perunggu, kurang lebih sejak 600 SM.
3.      Kebudayaan India
Kepulauan Indonesia pada zaman kuno berada dalam posisi yang strategis dalam jalur perdagangan antara India dan Cina. Perdagangan antara kepulauan Indonesia dan India lebih dulu terjalin dibandingkan dengan Cina. Hubungan perdagangan Indonesia-India dimulai sejak awal abad ke-1 M.
Hubungan dagang ini diperluas oleh proses penyebaran kebudayaan India (proses Indianisasi) yang mengakibatkan perkembangan penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Perkembangan tersebut antara lain penyebaran agama Hindu dan Buddha, diperkenalkannya system pemerintahan kerajaan, dan diperkenalkannya bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa.
Ada tiga teori yang membahas masuknya kebudayaan India ke Indonesia. Tiga teori tersebut adalah teori Waisya, Ksatria, dan Brahmana.
a)      Teori Waisya
Teori ini menyatakan bahwa para pedaganglah yang membawa dan menyebarluaskan kebuadayaan India di Indonesia. Para pedagang berasal dari kasta Vaisya (Waisya).
Akan tetapi teori ini mempunyai kelemahan tersendiri. Kelemahannya terletak pada perbedaan pusat perdagangan dengan pusat kerajaan Hindu di Indonesia. Pusat-pusat kerajaan yang bercorak Hindu di Kepulauan Indonesia pada umumnya berada di pedalaman, bukan di pesisir atau muara sungai. Padahal, pusat kerajaan berperan sebagai pusat ekonomi-bisnis.
b)      Teori Ksatria
Teori ini menyatakan bahwa yang membawa kebudayaan India adalah para ksatria atau bangsawan. Mereka datang ke Indonesia dengan tujuan penaklukan dan menjadikan wilayah Indonesia sebagai daerah koloninya. Maka dari itu, teori ini sering disebut sebagai teori kolonisasi. Setelah penaklukan selesai, barulah kebudayaan India tersebar di Indonesia.
Teori ini juga mempunyai titik lemah. Titik lemah tersebut terletak pada ketiadaan prasasti yang mengabadikan peristiwa penaklukan bangsa India tersebut. Padahal, penaklukan atau kemenangan dalam perang merupakan peristiwa penting yang biasa diabadikan dalam prasasti atau bangunan suci.
Kelemahan lainnya yaitu tidak adanya sisa atau pengaruh bahasa India. Yang ada hanya bahasa Sanskerta yang umumnya hanya dikuasai para Brahmana.
c)      Teori Brahmana
Teori ini merupakan sanggahan terhadap teori Waisya dan teori Ksatria. Teori ini menyatakan bahwa yang membawa dan menyebarkan kebudayaan India ke Indonesia adalah para Brahmana. Alasannya adalah hanya para brahmanalah yang menguasai bahasa Sanskerta dan sedikit menguasai agama Hindu. Awalnya penyebaran kebudayaan dilakukan oleh kaum Brahmana India, kemudian dilanjutkan oleh Brahman Indonesia yang belajar di India.
Teori ini juga mempunyai kelamahan seperti dua teori yang sebelumnya. Kelemahannya yaitu bagaimana mungkin kaum Brahmana Indonesia bisa menjadi kaum Brahmana, padahal aturan kasta sangatlah ketat.
Dari kelemahan tersebut, para ahli merujuk pada upacara vratyastoma, yaitu upacara pengembalian seseorang yang telah dikeluarkan dari kastanya karena telah melakukan suatu kesalahan. Melalui upacara inilah kaum Brahmana Indonesia bisa berada dalam kasta Brahmana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar